Oleh: Jack Fadli | Mei 15, 2009

Anak Raja Toga Laut Pardede mencari Jodoh


HUTUR BALLUK

Lumban Jabi-jabi – Balige

Alkisah dimulai dari sebuah keluarga Raja Toga laut Pardede yang bermukim di lumban Jabijabi Balige, (sekarang tugu Panjaitan berdiri,dan dprd). Sudah tiga hari hujan tidak henti-hentinya membasahi bumi, Sedangkan keluatga dekat dalam keadaan khawatir menunggu kelahiran anak pertama dari Raja Toga Laut , bersamaan suara guntur terdengar suara bayi, mendadak seisi rumah bergembira, segala puji-pujian dilantunkan sanak keluarganya kepada oppu Mulajadi Na Bolom (pada saat itu belum ada agama samawi)

Seorang anak laki-laki (putra pertama) telah hadir dalam keluarga Raja Toga Laut Pardede, yang diberi nama “Hutur Baluk” dari seorang ibu boru Samosir

Memang apa yang dikatakan orangtua “dang dao tumis sian bonana”, begitulah suatu perumpamaan tentang perangi Hutur Baluk yang hampir sama dengan perangai dari Raja Toga Laut Pardede setelah Hutur BAluk beranjak dewasa, kebijaksanaan, kharisma dan ketangkasan dan sebagainya sangat menonjol

Pada suatu hari setelah Hutur Baluk dewasa sang ibu menyuruh anaknya untuk pergi martandang kekampung Tulamgnya, karena ibunya sangat ingin bermenantukan boru dari itonya sendiri, keinginan ibunya tidak ditolaknya, setelah mohon doa restu dari kedua orang tuanya, Hutur Balukpun berangkatlah kekampung Tulangnya, dengan berbekal sedikit pengetahuan tentang tabiat dari tulangnya yang terbilang keras, untuk itu dia dibekali dengan strategi menghadapi tulangnya yang baik hati itu.

Singkat cerita Hutur Balukpun sampailah kekampung Tulangnya, sesampai dirumah tulangnya, dia ditegur seorang wanita setengah berumur “Siapa kau tanyanya”, HUtur Balukpun menjawabdengan penuh hormat karena tahu wanita itu adalah pasti Nantulangnya, sembari dia menyodorkan tangannya untuk menyalam wanita itu “Ahu si Hutur do nan tulang” sian Balige. “Ba ho do i hape bere, tu jabu ma hita”, sambut Nan tulangnya dengan senang dan gembira akan kehadiran berenya (anak dari edanya yang kawin dengan Raja Toga Laut Pardede yang bernama Ramot Parulian boru Samosir}

“Rumita bahen jo minuman ni pariban mon”, seru Nantulangnya memanggil Borunya sambil mengasi tahu anak namborunya dari BAlege datang.”Olo Inong” sebuah suara dari arah dapur menjawab, Hutur Baluk mendengar suara itu saja sudah membayangkan kecantikan boru tulanngnya, diapun tidak sabar melihat boru tulangnya yang berna si Rumita. Seorang gadis desa muncul dari dapur dengan membawa secangkir minuman,Mata Hutur Baluk tidak lepas memandangi sang gadis si boru tulang, meskipun gadis desa yang masih terbilang belia, namun kecantikannya lumayan mempesona. Tingkah Hutur Baluk tidak lepas dari perhatian nantulangnya.

“Satokin nai mulak ma tulang mu sian pasar”, tegur nantulangnya membelah keheningan, Hutur tersentak akan seruan nantulangnya.Tidak berapa lama muncul seorang laki-laki yang sudah berumur dan sangat berwibawa. Hutur Baluk Tahu pasti itu Tulangnya , tanpa menunggu nantulangnya memeperkenalkannya dia langsung menyalami Tulangnya. “Siapa kau” tanya pendek dengan bahasa toba samosir yang sangat medok. Anakni Amang ( sebuah panggilan terhadap besan)par Balige do hasida, Oo, jawabnya singkat, “sudah makan kau” tanya tulangnya lagi, kembali sang nantulang menjawab “tetapi menunggu tulangnya dia katanya baru mau makan”. Maka merekapunmakan bersama-sama

Tulang Hutur Baluk dikenal di Onan Runggu samosir sebagai Paruma Bolon, dan sangat berwibawa dan tegas dalam memutuskan sesuatu, kepribadian tulangnya tersebut dari awal sudah diberi tahu oleh Ibunya, Tulangnya sudah mengerti apa tujuan Hutur Baluk Datang,oleh karena itu sang tulang akan menguji berenya untuk mengetahui sejauh mana tanggung jawab berenya itu kalau borunya si Rumita jadian dengan Hutur BAluk, apakah sama besar tanggung jawabnya dengan Bapaknya si Raja Toga LAut

Didalam tradisi Batak apabila orang tua menyuruh anaknya pergi berkunjung (martandang) ke kampung tulangnya maka siorang tua sudah cukup yakin bahwa sianak tidak akan mempermalukan mereka, secara tidak langsung mereka ingin memberitahu besannya (hula-hulanya) bahwa mereka telah berhasil mendidik anak mereka dengan baik, dan layak untuk diambil sebagai menantu.

Oleh karena itu Tulang Hutur paruma bolon mulai menatar berenya, mulai dari bertani (ke hauma), betrnak (marmahan) kerbau samapai adu kanuragan berupa berpencak silat , semuanya dapat dilalu Hutur Baluk dengan baik, Tulangnya pun sangat bangga akan berenya itu, dan sikapnyapun berobah, sangat menyayangi berenya tersebut.

Hutur Baluk selalu berusaha mendekati Rumita si boru tulang tetapi selalu sia-sia, meskipun demikian HUtur Baluk tidak terlalu kesepian atau jenuh di kampung tulangnya kebetulan ito dari Rumita ada tiga orang. (Putra dari pa Ruma Bolon ada tiga orang. 1- Op.Sori Batu.2- Op. Raja podi. 3- Raja Baringin), dengan mereka-mereka inilah Hutur Baluk bergaul selama di Onan Runggu Samosir kampung Tulangnya.

Setelah berapa lama Hutur Balukun berniat pulang ke BAlige, sedangkan niatnya untuk memeprsunting boru tulangnya (boru samosir) mengalami kendala karena Rumita telah dijodohkan tulanngnya kepada pria lain namun demikian Tulangnya mencoba menjodohkannya dengan adik Rumita,tetapi Hutur Baluk tidak begitu tertarik karena dia sudah termakan pandangan pertama pada Rumita, Dengan berjiwa besar Hutur baluk menolak niat baik tulangnya, sebagai anak Raja Hutur Baluk memohon pamit pada tulangnya.

“Tulang mulak ma jolo ahu tulang, alana nunga tung mansai masihol ahu tu dainang di huta,” Hutur berpamitan dengan alasan rindu kepada ibunya, mendengar kata-kata berenya si Nantulang Miris, dia merasakan kekecewaan berenya. NAmun Hutur Baluk tidak seperti dugaan nantulangnya, bagi dia kewajibannya sebagai anak dan juga bere sudah dilaksanakan, dalam adat batak apabila seorang anak laki-laki berniat untuk berumah tangga , maka orang tuanya menyuruh anaknya martandang kekampung tulangnya atau harus terlebih dahulu menjajakinya(menanyai) Tulangnya,

Seperti dikatakan diatas tadi Hutur Baluk tidak terlalu kecewa setelah mengetahui tambatan hati dalam pandangan pertama Rumita telah dijodohkan, dengan diantar semua keluarga tulangnya Hutur BAluk pun pulang ke Balige, dengan dioleholehi seperangkat pusaka oleh tulangnya.Sesampainya di Balige Hutur Baluk berusaha menunjukkan kegembiraan didepan Inongnya(ibunya),

“Bagaimana amang, kabar tulang dan nan tulangmu” tanya Ibunya pada HUtur Baluk, “Tulang dan Nantulang sehat-sehat saja dan aka Lae dan pariban itu semua baik-baik sama aku kata Hutur Baluk menyenangkan hati Ibunya, Cantikkan boru tulang mu si Rumitan itu, susul ibunya bertanya pada Hutur Baluk tak sabar, Cantik sekalipun Inong, tetapi sudah dijodohkan tulang rupanya, jadi aku terlambat kata Hutur Baluk sambil ketawa, takut dia melihat kedua orang tuanya kecewa. “Apa kau bilang” seru ibunya setengah berteriak, “Si Rumitan dijodohkan dengan orang lain tanpa sepengetaguanku!, lanjut ibunya dengan penuh kekecewaan.

“Sudahlah, memang kita yang salah”, potong among nya Hutur Baluk si Raja Toga Laut Pardede, meredakan kekecewaan isterinya si boru samosir. “Semua orang akan berebut mengambil borunya lae si paruma Bolon menjadi menantunya, siapa cepat pasti dia yang dapat, kalau tidak cepat dan tangkas aku dulu belum tentu boruni rajai dapatku”, kata Siraja Toga Laut Pardede sambil guyon memujimuji isterinya, akhirnya Siboru Samosir ibunya Hutur Balukpun dapat tenang, tidak mengumpat dan marah-marah lagi, meskipun dalam hatinya dia sedih dan kecewa. Tetapi melihat anaknya sedikitpun tidak menunjukkan kekecewaan, si boru samosirpun dapat memaklumi, sembari mengamati anaknya si Hutur Baluk dalam hatinya dia berkata sendiri bahwa anaknya bukan lah pemuda sembarangan, sejak anaknya Hutur Baluk Sepulang dari kampung Tulangnya bertamabh cakap,matang Ganteng, pintar, dan sakti, Si Boru Samosir yakin itonya pasti mengajari anaknya dengan bermacam-maca ilmu, hal inilah yang membuat si ibu tenang, masalah jodoh anaknya sangat banyak anak gadis orang yang berebut jadi isteri dari anakku itu pikir si boru Samosir membesarkan hatinya.

Suatu hari Hutur Baluk berpamitan dengan kedua orang tuanya karena dia denga kawan-kawannya mau jalan-jalan (martandang) ke uluan , Raja Toga Laut hanya berpesan kepada anaknya agar tidak membuat masalah dikampung orang, danbertingkah lakulah seperti anak raja (Raja pangalahom), mudah-mudahan kau akan mendapat hal-hal yang baik (parsaulian), setelah mendapat bekal dari orang tuanya diapun berangkat dengan kawan-kawannya.

Hutur Baluk sekedar mengikuti kawan-kawan saja karena mereka sudah cukup lama berpisah, selama ditinggal nya pergi kekampung tulangnya di Onan runggu Samosir, mereka sampai ke sibisa martandang dari kampung yang satu kekampung yang lain, disetiap kampung mereka diterima dengan baik karena ke empat pemuda tersebut bertingkah laku baik dan sopan santu layaknya anak raja. Dua kawan Hutur Baluk sudah mendapat pasangan tambatan hati, namun Hutur Baluk belum juga tergerak hatinya untuk menggoda anak gadis disetiap kampung yang singgahi mereka, hingga kahirnya tinggal dua orang mereka belum menemui pasangan yang cocok , sedangkan teman nya yang dua orang lagi sudah asyik bercengkrama dengan pasangannya yang bermarga boru Manurung dan boru Torus, berselang berapa lama kawannya yang bermarga Siahaan pun menemui gadis idamannya boru sirait, melihat kawannya yang bermarga siahaan itu juga sudah mendapat pasangan Hutur Balukpun merasa kecil hati, sebenarnya tanpa disadari cukup banyak gadis-gadis mengharap Hutur Baluk melirik mereka dan mangajaknya marhusip- husip (berbincang bincang). akhirnya tingal dia sendiri yang belum mempunyai pasangan, tanpa diduganya melintas dihadapannya seorang anak gadis yang mirip dengan boru tulangnya si Rumita boru Samosir, dia tersentak dari lamunannya dan langsung menegur anak gadis tersebut: ” Rumita!” tegur Hutur Baluk sekenanya, sigadis tersebutpun menoleh ke arah Hutur Baluk, “ahai ito”, jawab sigadis dengan suara yang lembut , membuat Hutur Baluk terpana sambil berbisik dihatinya, tak kusangka bisa aku menemui gadis yang rupawan mirip dengan boru tulangku bahkan lebih manis lagi, suaranyapun mirip dengan Rumita, hanya lesung pipitnya mebuat perbedaannya dengan Rumita. Penemuan tersebut membuat Hutur Baluk tidak perduli lagi akan ajakan teman-temannya untuk pulang, “Kalianlah duluan jawabnya tegas. Karena mereka berteman sejak kecil maka teman-temanyapu tidak tega meninggalkan Hutur Baluk sendirian di Uluan.

Setelah tiga hari merekapunpulang ke Balige, dengan membawa kenangan manis, mereka telah menemui jodoh mereka, tinggal pelamaran dari pihak orang tua mereka kepihak keluarga perempuan.

Setelah tiba saatnya maka berangkat lah utusan si RAja Toga LAut Pardede ke Uluan melamar si Boru Parnoboto boru Sirait. untuk menjadi Parsoduk bolon (isteri) dari Raja Hutur Baluk Pardede

Sekianlah dulu turi-turian ini disajikan kalau ada kurang dan lebihnya mohon dimaafkan, kami sangat mengharap perbaikan-perbaikan, agar tidak sebatas wacana kisah tersebut diatas.

Catatan:

1- Semoga dapat menambah kecintaan pada nak keturunan Raja toga Laut-Thp.

2- Untuk menambah motivasi bagi keturunan Raja toga Laut Pardede, kami mengharapkan tulisan-tulisan baik berupa mytos dan cerita orang tua kita – Thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: